Mahkamah Agung Jepang Putuskan Cryptojacking Script bukan Malware

Internet Sehat : Seorang pria yang dinyatakan bersalah menggunakan Coinhive cryptojacking script untuk menambang Monero di PC pengguna saat mereka menjelajahi web telah dibersihkan namanya oleh Mahkamah Agung Jepang dengan alasan bahwa perangkat lunak penambangan crypto bukan malware.

Pengadilan Tinggi Tokyo memutuskan terdakwa, Seiya Moroi, 34 tahun atas tuduhan menyimpan rekaman elektromagnetik dari program yang tidak adil. Program yang tidak adil itu adalah Coinhive cryptojacking script yang ditambang untuk Monero dengan menjepit beberapa siklus CPU ketika pengguna mengunjungi halaman web yang menyertakan kode tersebut. Moroi menjalankan kode di situsnya.

Coinhive telah diblokir oleh vendor malware dan antivirus karena memperlambat proses lain, meningkatkan tagihan utilitas, dan menciptakan kerusakan pada perangkat pengguna. Namun dalam banyak hal, kode Javascript Coinhive tidak berbeda dengan iklan.

Moroi memposting ke situs yang mempromosikan bisnis desain UX dan UI-nya untuk menawarkan sisi ceritanya, termasuk referensi ke Bab XIX-2 KUHP Jepang. Dia juga berpendapat bahwa dia mengungkapkan keberadaan Coinhive, jadi tidak bertindak menipu. Moroi juga tidak berniat mengambil untung dari usahanya, dia hanya ingin mengikuti tren teknologi.

Dia juga berpendapat bahwa usahanya tidak benar-benar menghasilkan uang. Scrip tersebut menghasilkan kurang dari 1.000 yen Jepang atau setara 8,79 dollar AS jumlah yang sangat kecil sehingga sulit untuk menguangkan Monero. Fakta bahwa tidak ada PC pengguna yang merasa tidak nyaman juga mempengaruhi para juri.

Pihak berwenang Jepang tidak menyukai keputusan tersebut. Kepala Kejaksaan Agung, Seiji Yoshida mengatakan bahwa sangat disayangkan bahwa dakwaan jaksa tidak diterima, tetapi karena itu adalah keputusan Mahkamah Agung, mak akan dianggapnya serius.

Kasus ini tampaknya telah bertahan lebih lama dari Coinhive sendiri yang telah dihentikan pada Maret 2019 karena, menurut perusahaan, tidak lagi layak secara ekonomi.

Sumber : The Register